Bahasa Inggris Itu Sulit, Menyerah Saja
Tidak semua orang tahu, kalau bahasa Inggris itu bukanlah bahasa yang mudah untuk dikuasai. Betul sekali, anda tidak salah baca. Sesuai dengan judul artikel blog ini, anda akan menemukan banyak kenyataan pahit yang harus anda telan jika anda nekat belajar bahasa Inggris. Jika sampai paragraf ini anda mulai ingin menutup mata dan telinga untuk tahu lebih lanjut tentang kenyataan yang akan saya kupas khusus dalam artikel ini, silahkan anda tinggalkan artikel ini. Agar anda tidak kehilangan motivasi untuk belajar bahasa Inggris.
Baiklah, supaya pembukaannya tidak terlalu panjang, saya akan langsung mulai artikel ini.
Anda mungkin sudah tahu atau bahkan anda sendiri juga pernah merasakan dan mengalaminya, bahwa setelah anda tahu satu atau dua tenses, anda mulai merasa bahwa bahasa Inggris itu sangatlah mudah untuk dikuasai. Saya garisbawahi point-nya, untuk dikuasai, bukan untuk dipelajari. Kalau hanya dipelajari secara sederhana -misalnya hanya dari segi rumusnya dan sedikit fungsinya- mungkin terasa sangat gampang. Tapi tidak untuk dikuasai. Sangat sulit dan butuh perjuangan dan latihan keras dan waktu yang sangat lama untuk dapat menguasai bahasa Inggris.
Untuk dapat menguasai dan menggunakannya dalam komunikasi baik lisan maupun tulis dibutuhkan proses yang tidak gampang, bahkan tidak semua orang punya kesempatan untuk itu. Mungkin seseorang memiliki dana yang cukup untuk mengikuti kursus bahasa Inggris, tapi dia tidak punya waktu untuk melakukannya. Atau sebaliknya, punya waktu yang cukup, tapi tidak ada dana untuk membayar biaya kursus bahasa Inggris yang relatif mahal.
Walaupun seseorang memperoleh kesempatan untuk mengikuti kursus bahasa Inggris, namun belum tentu dia dapat menguasai bahasa Inggris. Bukan bermaksud meremehkan anda yang membaca tulisan ini. Namun, saya hanya menjelaskan hal penting yang orang lupa sadari.
Untuk bisa menguasai bahasa Inggris, seseorang dituntut untuk bisa mengeksekusi pengetahuannya tentang bahasa Inggris dalam waktu sesingkat-singkatnya. Dengan kata lain, seseorang tersebut tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk berpikir dan menyiapkan ilmunya saat sedang berkomunikasi dengan lawan bicara. Jadi, ketika dia mendengarkan seseorang saat berbicara bahasa Inggris, dia tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk dapat menerjemahkan pembicaraan tersebut agar dirinya dapat memahaminya. Dia dituntut untuk langsung dapat memahami pembicaraan tanpa harus menterjemahkan. Begitu juga saat dia harus merespon pembicaraan seseorang. Dia juga tidak akan memperoleh waktu yang cukup untuk menterjemahkan ide dia dari bahasa aslinya ke bahasa Inggris. Kalau seandainya dia nekat melakukannya, mungkin akan memakan waktu yang cukup lama, karena dia harus memikirkan tentang ide dan mempertahankannya di kepala agar tidak buyar. Lalu dia harus menentukan kosa kata yang tepat. Setelah kosa kata sudah siap, dia harus memilikirkan rumus sesuai dengan tenses yang dipakai. Kalau sudah siap semuanya, dia mulai mensimulasikan susunan kalimat-kalimat dari ide tersebut di kepala guna memastikan lagi apakah terdapat kesalahan atau sudah aman. Kalau dirasa sudah tidak ada kesalahan, barulah dia dapat menyampaikannya secara lisan kepada lawan bicara. Kalau situasinya sedang santai, maka lawan bicara akan dengan senang hati menunggu kita untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang seseorang tersebut sedang siapkan. Namun, berbeda halnya dengan kondisi yang tidak memungkinkan, lawan bicara akan tidak sabar dan menolak untuk menunggu berlama-lama sebab dirasa telah menghabiskan waktunya.
Kesimpulan dari pemaparan di atas, level bahasa Inggris yang harus kita capai adalah level otomatis. Sehingga memungkinkan seseorang berkomunikasi dalam bahasa Inggris tanpa lagi berpikir bahasa Inggrisnya, melainkan cukup memikirkan jalan pembicaraan saja alias ide pembicaraan.
Namun, level tersebut terasa sangat sulit untuk dicapai. Lebih-lebih bahasa Inggris memiliki banyak sekali materi yang harus dikuasai yang jumlahkan sangat sulit untuk diketahui karena terlalu banyak. Jadi, dengan bermodalkan optimis saja, tidaklah mungkin dapat mengantarkan kita untuk bisa berhasil dalam mencapai level bahasa Inggris otomatis.
Apalagi kalau kita suka menonton motivasi atau saran dari banyak orang yang ada di internet. Mereka dengan mudah memberikan saran kepada para penonton untuk belajar bahasa Inggris melalui film atau game. Terdengar sangat masuk akal. Tapi kalau dilakukan sangatlah sulit. Menonton film akan menjadi sangat efektif bagi orang yang sudah mahir berbahasa Inggris. Dia akan memperoleh ilmu baru dan mengembangkan kemampuan berbahasa Inggrisnya. Namun bagi pemula, ajarin dong puh sepuh, maka akan sangat sulit untuk dilakukan. Jangan belajar, apa yang dia dengar saja sudah sangat tidak jelas.
Kalau seandainya hanya dengan menonton film, pemula bisa dengan mudah menguasai bahasa Inggris, maka sudah dapat dipastikan kalau di Indonesia sudah banyak orang yang bisa dengan fasih berbicara bahasa Jepang. Mereka sudah menonton Naruto, Bleach, Dragon Ball, One Piece dan anime lainnya dari episode satu hingga tamat yang mana bahasa yang dipakai juga bahasa Jepang. Harusnya mereka sudah jago dan mahir berbahasa Jepang, namun faktanya, mereka hanya bisa mengucapkan kata-kata tertentu saja.
Mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan. Jika anda tidak setuju dengan tulisan ini, silahkan tinggalkan komentar anda di kolom komentar. Sampai jumpa.

Comments
Post a Comment